Mengapa

Mengapa kita terbiasa bertanya tanpa terlebih dahulu membaca? Mengapa kita terbiasa menghakimi apa-apa yang kita pikir kejahatan, tanpa mencari tahu sesuatu bernama alasan? Mengapa kita kerap menuntut dimengerti tanpa kerelaan untuk menjelaskan? Mengapa kita marah tanpa memberitahu bagian mana yang salah? Mengapa kita menuntut kejujuran lalu berontak saat kejujuran seseorang tak sesuai pengharapan? Ah, mengapa …

Continue reading Mengapa

Advertisements

Simpul

Aku tak pernah mengira masa SMA benar-benar segila ini. Aku tak pernah mengira bahwa semua yang sederhana, jika diakumulasi bakal serumit ini. Pun tak pernah kusangka bahwa angan dan kewajiban terpisah tak lebih dari jarak antar sisi yang berseberangan pada lubang jarum jahit saja. Belakangan, selama beribu detik yang menahanku dari membaca dan menulis, memaksaku …

Continue reading Simpul

Tinggal

Orang bilang, mereka yang ditinggalkan adalah yang terburuk. Oh, ayolah. Bagaimana dengan mereka yang harus berjalan pergi di kala sangat ingin untuk menetap? Bagiku, lebih parah! Melawan apa yang hati katakan adalah salah satu perasaan paling buruk yang harus dirasakan manusia. Betapa tidak, membohongi orang lain jauh lebih sederhana dibandingkan membohongi diri sendiri. Terlebih, berkali-kali. …

Continue reading Tinggal

Sisa Hari

Sejak kemarin, aku memutuskan untuk berhenti menghitung sisa hari menuju perpisahan sekolah. Aku sadar, waktu yang tersisa bukan untuk dihitung mundur. Apa gunanya ku hitung mundur? Toh, tak dapat dipercepat pun ditunda. Hari-hari ini untuk dibuat bernilai. Karena mahalnya lebih dari harga novel-novel di perpustakaan kecilku. Lihatlah, bahkan untuk membuat janji bertemu yang terakhir kali …

Continue reading Sisa Hari

Ada

Dan lagi, siklus berulang. Bahkan berkali-kali hanya dalam kurun waktu sebulan. Pada akhirnya, yang tersisa adalah yang benar-benar berniat untuk ada. Ya, sekadar ada. Karena nyatanya, keberadaan lebih bernilai dari benda-benda atau aksara, bukan? Aku baru menyadari itu sekarang. Hei, setidaknya aku menyadarinya walau telat. Maka jika kau memiliki satu, dua, atau banyak orang di …

Continue reading Ada

Mereka

Kemarin, kau datangi mejaku Di sudut kelas dengan pencahayaan yang kurang Karena jujur saja, di luar hujan sedang riang Ku beri namaku Dan kisah tiga tahun dimulai Aku masih mereka-reka Sihir yang kau manterakan berupa apa? Satir, memaksa tangis menguap diembus tawa Menarik kesah melebur dijerat canda Jatuh dan tersungkur Kadang rapuhku menggeliat Aku tak …

Continue reading Mereka

Ambigu

Aku benci pada ambiguitas Aku benci saat seseorang membuatku berakhir pada dua hingga banyak spekulasi Aku benci untuk menimang-nimang, "Ini, atau itu?" Sederhana Aku ingin kau dan mereka to the point saja Entah hendak menggoreskan luka atau menanam perasaan cinta Tak peduli, sungguh ku tak peduli Aku hanya ingin kebenaran yang jelas Sejelas-jelasnya Tanpa kalau …

Continue reading Ambigu

Pembosan

Aku mudah bosan. Aku bosan berada di kelas sepanjang waktu untuk menyimak guru menerangkan pelajaran. Makanya aku sangat senang duduk di depan kelas. Menghirup lebih banyak oksigen karena banyak sekali tanaman di taman kelas. Rasanya, otakku yang panas diguyur air dingin, sejuk sekali. Juga melihat teman-teman lain berlalu-lalang tanpa suara. Tak masalah, aku hanya butuh menyegarkan …

Continue reading Pembosan

Pesan

Beberapa orang pernah berpesan padaku. Katanya, "Esok atau lusa, kalau kau marah, kesal, juga kecewa, maka menulislah. Siapa tahu, bisa meredakan sakit di hatimu. Membuat kering luka-luka itu." Dan aku sangat ingin menulis sekarang. Beberapa orang pernah memintaku berlatih bertopeng. Maksudnya, di kala aku begitu enggan tersenyum, aku harus tersenyum. Di kala aku lelah berpura-pura tertawa, …

Continue reading Pesan