Sisa Hari

Sejak kemarin, aku memutuskan untuk berhenti menghitung sisa hari menuju perpisahan sekolah. Aku sadar, waktu yang tersisa bukan untuk dihitung mundur. Apa gunanya ku hitung mundur? Toh, tak dapat dipercepat pun ditunda. Hari-hari ini untuk dibuat bernilai. Karena mahalnya lebih dari harga novel-novel di perpustakaan kecilku. Lihatlah, bahkan untuk membuat janji bertemu yang terakhir kali …

Continue reading Sisa Hari

Ada

Dan lagi, siklus berulang. Bahkan berkali-kali hanya dalam kurun waktu sebulan. Pada akhirnya, yang tersisa adalah yang benar-benar berniat untuk ada. Ya, sekadar ada. Karena nyatanya, keberadaan lebih bernilai dari benda-benda atau aksara, bukan? Aku baru menyadari itu sekarang. Hei, setidaknya aku menyadarinya walau telat. Maka jika kau memiliki satu, dua, atau banyak orang di …

Continue reading Ada

Mereka

Kemarin, kau datangi mejaku Di sudut kelas dengan pencahayaan yang kurang Karena jujur saja, di luar hujan sedang riang Ku beri namaku Dan kisah tiga tahun dimulai Aku masih mereka-reka Sihir yang kau manterakan berupa apa? Satir, memaksa tangis menguap diembus tawa Menarik kesah melebur dijerat canda Jatuh dan tersungkur Kadang rapuhku menggeliat Aku tak …

Continue reading Mereka

Teman

Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan? Tere Liye, Rindu Ketika ku sebut mereka teman, satu per satu mereka hilang. Layaknya sunyi dalam hiruk pikuk perkotaan, dengan berbagai alasan, aku merasa sendirian. Tanpa keberanian menyebut seorangpun sebagai teman. Asing. Asing bukan kepalang. Ajaibnya, dalam tiga tahun …

Continue reading Teman