Nyanyian Maba

Ku kira Malam di Jogja pun riuhnya suasana Universitas Gadjah Mada, tak akan mampu memalingkan pikiranku dari indahnya masa SMA Ku kira Sahabat hanya terdefinisi di sana. Dan perkuliahan hanya sebatas gubug penuh ambisi, emosi, dan individualisme mahasiswa yang melukai Nyatanya, paradigmaku salah Ekspektasiku sekarang membuncah Geofisika... Membuatku jatuh cinta tiada hentinya Tugas yang menggunung …

Continue reading Nyanyian Maba

Advertisements

Juni, 2016

Di sudut kota yang hening berkawan hujan Bulan Juni, ada sepenggal cerita umpama kopi terbaik buatan petani yang ketika disajikan, lupa menaruh gula. Kisah tentang dua manusia yang berdiri bersisian, dengan batas tak kasat mata tinggi menjulang. Kisah tentang pertemuan demi pertemuan menuju pembiasaan, sebelum perpisahan. Kisah tentang... Ah, bacalah catatan terakhirnya saja. Mungkin kelak …

Continue reading Juni, 2016

Mereka

Kemarin, kau datangi mejaku Di sudut kelas dengan pencahayaan yang kurang Karena jujur saja, di luar hujan sedang riang Ku beri namaku Dan kisah tiga tahun dimulai Aku masih mereka-reka Sihir yang kau manterakan berupa apa? Satir, memaksa tangis menguap diembus tawa Menarik kesah melebur dijerat canda Jatuh dan tersungkur Kadang rapuhku menggeliat Aku tak …

Continue reading Mereka

Ambigu

Aku benci pada ambiguitas Aku benci saat seseorang membuatku berakhir pada dua hingga banyak spekulasi Aku benci untuk menimang-nimang, "Ini, atau itu?" Sederhana Aku ingin kau dan mereka to the point saja Entah hendak menggoreskan luka atau menanam perasaan cinta Tak peduli, sungguh ku tak peduli Aku hanya ingin kebenaran yang jelas Sejelas-jelasnya Tanpa kalau …

Continue reading Ambigu

Pembosan

Aku mudah bosan. Aku bosan berada di kelas sepanjang waktu untuk menyimak guru menerangkan pelajaran. Makanya aku sangat senang duduk di depan kelas. Menghirup lebih banyak oksigen karena banyak sekali tanaman di taman kelas. Rasanya, otakku yang panas diguyur air dingin, sejuk sekali. Juga melihat teman-teman lain berlalu-lalang tanpa suara. Tak masalah, aku hanya butuh menyegarkan …

Continue reading Pembosan

Pesan

Beberapa orang pernah berpesan padaku. Katanya, "Esok atau lusa, kalau kau marah, kesal, juga kecewa, maka menulislah. Siapa tahu, bisa meredakan sakit di hatimu. Membuat kering luka-luka itu." Dan aku sangat ingin menulis sekarang. Beberapa orang pernah memintaku berlatih bertopeng. Maksudnya, di kala aku begitu enggan tersenyum, aku harus tersenyum. Di kala aku lelah berpura-pura tertawa, …

Continue reading Pesan

Dua Tahun

Satu, lalu dua Duhai, banyak kiranya Banyak kiranya bahagia jaminkan pilu Untuk lusa, memupuk resah dalam setiap tawa Dua tahun mengabu Sesal masih meliputi pengetahuanku Tentang bahagia yang sesak mengabadi Tentang terjadi yang tak seharusnya pernah menjadi Tentang asa yang melagu masih dalam hati Pengetahuan itu memaksaku berpikir keras Diksi selamat jalan nan seulas senyum tanpa …

Continue reading Dua Tahun

Permainan

Menertawakan prinsip orang lain sama artinya dengan kau bersedia kehilangan orang itu. Entah sekejap atau selamanya, yang pasti akan mengikat masa. Maka jika kau cukup arif untuk berusaha menghargainya, berhenti tertawa dan siuhlah. Sadari kenyataan bahwa kelukurnya terlalu abu-abu dalam tilikanmu karena permainanmu terlalu asing dalam bayangannya.

Tentang Baja

Padamu Ku ingatkan perihal satu Teman barumu itu bernama Baja Sekali kau coba buat luka Yang ada kau berdarah Karena tak mudah pecahkan baja Sebaliknya Jika ia berontak Remuk redamlah engkau Berhati-hatilah Teman barumu itu bernama Baja Sececahpun tak jahat Justru bebas mudarat Hanya jika kau cukup tega menyakitinya Maksudku Jika kau cukup bodoh menyakiti dirimu …

Continue reading Tentang Baja