Jatuh Cinta?

“Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?”
-Rindu, Tere Liye

Sejujurnya, aku selalu menghindari bahasan tentang pacaran. Hal ini berdampak dengan malasnya untuk menuliskan apapun yang berkaitan dengan cinta antar-remaja. Atau dewasa muda? Ku dengar seorang guru menyebutku begitu di umur yang sekarang.

Tapi kali ini, aku tak ada ragu. Sebuah pengalaman menarik telah membuatku amat terharu. Tentang cinta dari Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Sayang sekali rasanya jika ku simpan sendiri saja.

Aku yakin kita semua sudah tidak asing dengan kata pacaran. Pun banyak kenalan mereka yang tengah berpacaran. Atau bahkan, justru kita sendiri yang pernah atau sedang berpacaran. Ah, biasa!

Tepat, kita berpikir itu hal biasa bahkan di saat kita tahu betul Allah sama sekali tidak menginginkannya. Oh, ayolah… Semua rasanya pernah mendengar hadits yang menyebutkan bahwa sesungguhnya andai kepala seseorang ditusuk dengan jarum yang terbuat dari besi lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.

Juga bunyi ayat ke-32 dari Surah al-Isra’, “Wa laa taqrobuz zina innahu kana fahisyah, wa sa’a sabila.”

Kau tahu sobat, menariknya, sekitar seminggu ini, 4 teman memberi kabar telah putus (pun ada yang baru akan putus) dari pacarnya masing-masing. Dengan kata lain, 4 pasangan! Mereka putus sama sekali bukan untuk saling menyakiti, justru agar meminimalisasi luka. Mereka putus bukan karena berhenti saling mencintai, justru karena ingin mencintai dengan cara yang paling mulia. Mencintai di atas ridho-Nya.

Masya Allah, begitu mudahnya hati terbolak-balik. Wahai, bisakah kau membayangkan bagaimana perasaanku mengetahui ini semua, mendengarkan 4 kabar senada berturut-turut dalam kurun waktu sekitar 1 minggu saja? Speechless!

Untuk hati yang tengah berusaha merelakan, teruslah berjuang! Berhenti pacaran memang tak lantas membuat kita otomatis menjadi sholeh/ah. Tapi, bukankah semua orang sholeh/ah tidak berpacaran? Berbahagialah! Sang Maha Membolak-balikkan hati telah menyiapkan skenario terindah untuk kita semua. Tak mustahil untuk jauh lebih indah dari ending telenovela yang dibuat manusia. Tunggu saja, kita pasti dibuat takjub menyadari betapa cintanya Dia.

Dan untuk hati yang masih ragu untuk melepaskan, ingatlah. Jika benar cinta, ia tak akan menjeremuskan untuk mendulang dosa. Berhati-hatilah, boleh jadi cintanya saat ini hanya semu semata.

Hei, bukankah sungguh manis ketika dua hati diam-diam saling mendoakan kebaikan? Doa yang diterbangkan bertemu dalam lelapnya tidur kebanyakan orang di 1/3 malam. Memendam kerinduan dengan cara paling romantis yang pernah ada. Menghabiskan hari dengan kegiatan positif, belajar, memperbaiki diri, hingga nanti dipertemukan kembali dengan keadaan yang lebih baik lagi.

“Apapun yang terjadi, teruslah mendekat pada-Nya. Lelah kadang tak dapat dipungkiri, tapi pertolongan-Nya tak kan pernah meninggalkan kita sendiri. Berupa teman sholeh/ah yang selalu menguatkan, misalnya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s