The New Hello

But to me, the happiness and the thankfulness… nothing’s changed at all. Just my paradigm should be changed: The fact is even if I’m not changed, there’s always a probability for people to change.

***

Belakangan aku kehilangan diriku. Maksudku, haissh. Sejenak aku terlampau bahagia, dan kemudian sendu tak terkira. Kembali, setelah sekian lama, aku takut untuk menaruh percaya.

Beberapa bulan lalu aku belajar untuk mengubah pola pikirku. Tak semua orang sama, tentunya. Untuk sejenak aku berhasil. Namun sekarang, aku kembali takut.

Ini pertama kalinya aku benci menulis. Badanku panas sejak kemarin, kepala ku terasa berat. Mungkin pengaruh mata yang masih sembab. Entah bagaimana hubungannya, pokoknya mual sekali. Tapi aku yakin, usai menuliskan ini, energiku kembali. Setidaknya itu yang biasa terjadi selepas kuluapkan emosi.

Mungkin aku yang terlalu kekanak-kanakan karena takut pada perubahan.
Mungkin aku yang tak mampu berpikir panjang ke depan.
Mungkin aku yang mesti banyak mencari kebaikan.

Sehingga jika perubahan benar terjadi, aku telah siap.

Siang ini, lagi-lagi di kamarku dengan tirai jendela yang separuh tertutup karena aku lebih suka suasana redup, aku mengabadikan coretan yang sama. Ku rasa, ini saat yang tepat untuk memulai kembali. Tak peduli ketakutanku menggeliat, aku belajar untuk menerima apapun yang masa depan hadiahkan. Bahwa kebahagiaan tak pernah jauh-jauh dariku. Bahkan meski pandanganku gagap menjangkaunya, ia mendoakanku.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s