Tiga Minggu di Jogja

Ku habiskan kemarin sore dengan diam.

Memang benar, jika marah maka aku memilih diam. Namun, aku sama sekali tidak sedang marah.

Tiba-tiba saja seorang teman menghampiriku. “Kenapa sendirian begitu? Seperti orang bingung saja!” Ia tertawa. Aku gagap.

Beberapa menit sebelumnya, entah apa yang sebenarnya terjadi. Kala itu, aku dan teman-teman tengah menonton konser di parkiran kampus. Tanpa babibu, ku rasakan bahwa aku mengingat sesuatu yang benar-benar menikam hatiku. Sesuatu yang beberapa hari ini telah ku lupa rasanya.

Aku perlahan mundur. Samar-samar ku dengar suara vokalis band menghilang seraya pikiranku yang mulai melayang. Ku tutup wajah dengan tangan. Di depan cermin, ku perhatikan seorang gadis tengah muram. Senyumnya layu, bola matanya basah. Ah, iya, aku menangis barang sejenak di toilet putri yang sepi itu.

Ku kira, aku merindukan teman lamaku. Dia yang selalu menjadi dewasa saat kanak-kanakku berkoar. Dia yang selalu tersentak saat ku ceritakan luka yang ku kubur dalam. Dia yang selalu tahu aku tidak baik-baik saja meski semua orang percaya pada topengku yang tertawa. Dia, seseorang yang selalu berkata ingin menjadi sahabatku selamanya.

Aku mencoba menarik paham. Entah kali keberapa dalam Agustus ini aku mencoba paham pada apapun. Termasuk padanya. Bukankah semua hal bahkan meja belajar di kamar asramaku memiliki masa? Memiliki tanggal kadaluarsa? Yang bisa rusak, lalu terpisah. Atau hilang, dan tak kembali. Mungkin, begitupun kita.

Aku ingin, pun telah ku coba menaruh percaya pada beberapa orang baru. Tapi sungguh, aku takut. Aku takut, setelah ku titipkan semua kepercayaan, aku kehilangan lagi. Sendirian lagi.

Kau dengar, Teman? Aku lelah sekali.

Advertisements