Juni, 2016

Di sudut kota yang hening berkawan hujan Bulan Juni, ada sepenggal cerita umpama kopi terbaik buatan petani yang ketika disajikan, lupa menaruh gula.

Kisah tentang dua manusia yang berdiri bersisian, dengan batas tak kasat mata tinggi menjulang.

Kisah tentang pertemuan demi pertemuan menuju pembiasaan, sebelum perpisahan.

Kisah tentang… Ah, bacalah catatan terakhirnya saja. Mungkin kelak kau paham. Bahkan dalam seulas senyuman pagi hari, ada perih yang dikubur dalam-dalam. Pun dalam kalimat “Selamat tinggal.” terdengar selayaknya “Tetaplah di sini. Selalu.”

***

Malam itu, sejujurnya aku tak dapat mencerna apapun. Pikiranku melayang pada berbulan-bulan ke depan. Hanya suaramu yang ku dengar tak henti bercakap.

Bukan maksudku tak sopan. Hanya saja, berat menyadari akhirnya kita sama-sama paham untuk berhenti berjalan.

Ini inginku sejak dulu, memang. Tapi bukankah tak semua keinginan berasal dari hati terdalam? Ada sesuatu bernama keharusan yang mengalahkan impian manusia, terkadang.

Aku telah lama menyerah. Tapi melihatmu bertekut lutut pasrah seperti sekarang, aku lemah.

Ini tulisan terakhir tentang apa yang menggangguku setahun terakhir. Hingga mata yang menatap dalam itu tak lagi meneriakkan namaku. Hingga suara yang menenangkan itu terdengar bak nada sumbang. Hingga saat itu datang, biarkan aku berpura-pura telah baik-baik saja.

 

–Aku berhenti berharap tentang kita, pun berencana berhenti menuliskannya. Aku mulai berdoa.

bebaslepass.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s