Mimpi Dua Belas Tahun

“Tertawalah, seisi dunia akan tertawa bersamamu;
jangan bersedih karena kau hanya akan bersedih sendirian.”

-Edensor, Andrea Hirata

***

Waktu Sekolah Dasar, kelas empat atau lima, ada pembagian beasiswa dari sebuah lembaga tersohor. Beasiswa itu ditujukan untuk para siswa berprestasi di setiap sekolah di daerahku. Entah apa yang terjadi, yang ku tahu, aku sama sekali tidak menerima beasiswa itu meski aku juara umum di sekolah. Masih utuh dalam memoriku, kala itu di teras samping rumah aku duduk ditemani Mama, menahan tangis. Oh, ayolah, aku bukan menginginkan uang Rp2.000.000,00 di tabunganku. Aku hanya menginginkan kebenaran, kebenaran yang jelas. Mama dengan begitu arif menyuruhku tak usah ambil pusing dengan kejadian itu. “Kak, mutiara walaupun ada di dalam lumpur tetaplah mutiara…”, itulah kalimat yang hingga sekarang menjadi andalan Mama untuk menenangkanku dari sakit hati. Kejadian itu adalah pengalaman pertamaku mengenal apa yang disebut unfair, ketidakadilan.

Dan dari pengalaman patah hati pertama pada dunia, aku tumbuh.

Ujian Nasional Bahasa Indonesia SD, aku mengerjakan soal secepat yang ku bisa. Bukan apa-apa, tapi di pikiranku yang masih kanak-kanak, hal itu semata-mata agar aku mempunyai banyak sisa waktu untuk memeriksa kembali semua jawaban. Namun, kecepatanku mengerjakan soal malah membuat pengawas merasa tidak nyaman. “Jangan asal-asalan! Kerjakan dengan benar!” Sejenak aku tersentak, alamiah kanak-kanak yang takut sedikit saja dibentak. Belakangan aku sedikit bingung mengapa aku ditegur seperti itu. Toh, aku bukan mereka yang mencoba mencontek. Jujur saja, raut wajah beliau yang garang dibalik kacamata minus itu membuatku sempat berpikir, apakah sebegitu salahnya aku?

Dan sebulan kemudian, aku menjadi lulusan dengan nilai Ujian Nasional terbaik di sekolah, bahkan nyaris sekabupaten.

Selepas lulus dari SMP, aku diterima di sebuah SMA di kota. Orang-orang di sekitarku berkata, “Jalur belakang, bukan? Pasti mahal uang masuknya! Aduh, janganlah sekolah di sana!”

Dan lihatlah, namaku tertera secara resmi di lembar pertama PPDB SMA tersebut. Hingga lulus, aku membayar iuran sekolah sama seperti teman-temanku yang lain. Sekali lagi, tak ada beda.

Di tahun pertama SMA, seorang teman baru menyangsikan kemampuanku. “Kau tak akan mampu menjadi juara satu di kelas! Kau tidak akan bisa bersaing melawan siswa kota! Jangan pernah berani bermimpi, ya!” berapi-api ia mengatakan kalimat-kalimat tersebut padaku. Kala itu kami tengah duduk di taman sekolah berdua, menunggu waktu berkumpul karena memang sedang masa PLS (Pengenalan Lingkungan Sekolah).

Dan kau tahu, ketika pembagian rapor semester pertama, duduk di kelas bersama teman-teman sekelasku. Wali kelasku datang dari ruang guru membawa kabar bahwa aku menjadi juara umum seangkatan.

Saat hendak mendaftar SNMPTN, kembali, orang-orang mengetes bakat tak acuhku. Bukan mempermasalahkan prodi pilihanku, melainkan PTN-nya, UGM. Mereka mengatakan bahwa aku tak akan lolos meski nilaiku cukup baik dibandingkan yang lain hanya karena di provinsi kami lulusan yang diterima lewat jalur SNMPTN ke UGM sangat sedikit. Mereka menyarankan untuk menembak PTN lain saja. “Sayang sekali jika nilaimu dibuang percuma,” begitu umumnya mereka berdalih. Fakta itu memang benar, ku akui. Tapi, ada yang lebih ku percaya dari sekadar logika manusia, yaitu kuasa Tuhan. Di sisi-Nya, tak ada yang tak mungkin, bukan? Maka dengan bermodalkan kepasrahan pada Tuhan, aku memilih UGM saat pendaftaran SNMPTN beberapa bulan lalu.

Dan sekarang, aku tengah menyiapkan berkas registrasi mahasiswa baru UGM 2017.

Di suatu ruangan, beberapa waktu setelah pengumuman SNMPTN, seseorang bertanya padaku, “Lulus di mana?” Ku jawab singkat dengan senyum termanis yang ku bisa, makna euforia dalam hatiku yang masih meletup-letup. Ia bertanya lagi, “Asalnya SMA mana?” Ku sebutkan nama provinsi tempatku mengenyam pendidikan dua belas tahun ini. “Loh, bisa ya? Bisa ya SMA-nya dari daerah begitu masuk UGM?”

Deg! Untuk sesaat ku rasakan jantungku berhenti berdetak. Bukan aku berlebihan, Teman. Jika kau lihat, orang-orang di sekitarku pun tertegun mendengarnya. Beberapa menatapku nanar. “Sabar, ya! Tak usah didengarkan”, mungkin itulah yang ingin mereka katakan lewat tatapannya. Jadilah aku, terdiam dengan masih mengulas senyum termanisku.

Mungkin bagi satu, dua, atau banyak pembaca, kisahku masih terbilang sederhana, jauh dari keriuhan masalah dan rasa sakit. Bebas, semua bebas menilai. Tapi percayalah, Teman, semua yang pernah terjadi di ataslah yang menemani masa tumbuh kembangku. Mengajariku bahwa kebaikan adalah perihal integritas nan ikhlas, menegaskan padaku bahwa keadilan harus ditegakkan meski untuk hal seremeh-temeh apapun, membawaku pada pengertian yang hakiki tentang tak acuh: bahwa kita tak akan mampu menutup semua mulut yang menghina kita, Tuhan memberi dua tangan untuk kita memilih menutup dua telinga saja daripada mendengar itu semua.

Menjelajahi London, berkelana di negeri orang, menyapa penduduk setempat dengan aksen British English yang kental, menyentuh Elizabeth Tower juga Millennium Wheel yang termasyhur seantero dunia… Astaga, semakin hari, mimpi-mimpi yang ku tulis di secarik kertas yang kutempel di binder biru lautku terasa semakin dekat, namun juga berat. Ah, tak masalah. Tuhan tidak memaksa kita untuk mencapai semua angan duniawi, bukan? Tuhan hanya ingin kita berusaha dan terus berdoa.

***

“Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!”

-Edensor, Andrea Hirata

Advertisements

3 thoughts on “Mimpi Dua Belas Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s