Simpul

Aku tak pernah mengira masa SMA benar-benar segila ini. Aku tak pernah mengira bahwa semua yang sederhana, jika diakumulasi bakal serumit ini. Pun tak pernah kusangka bahwa angan dan kewajiban terpisah tak lebih dari jarak antar sisi yang berseberangan pada lubang jarum jahit saja.

Belakangan, selama beribu detik yang menahanku dari membaca dan menulis, memaksaku memendam tak kurang dari tiga perasaan yang.. entah mengapa, tak mudah didefinisi. Hanya saja, memikirkannya membuat dadaku sesak bukan kepalang. Tak berdarah, pipiku pun tak mampu basah.

Aku masih belum mengerti pada banyak hal. Banyak sekali. Setidaknya dua tahun terakhir benar-benar membuatku bertumbuh, meski rawan rapuh. Tidak, tidak. Maksudku, aku masih enggan untuk memahami. Setidaknya hingga malam ini, aku enggan memahami bahwa ada pertemuan yang hanya menyisakan pembelajaran, bahwa ada sebagian orang yang tak bisa kompromi pada kesempatan, bahwa ada pengetahuan yang hanya melegakan tanpa pengertian.

Hei, bisakah kau dengar resahku?


Dalam proses untuk rutin menulis lagi. Yaay!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s