Mereka

Kemarin, kau datangi mejaku
Di sudut kelas dengan pencahayaan yang kurang
Karena jujur saja, di luar hujan sedang riang
Ku beri namaku
Dan kisah tiga tahun dimulai

Aku masih mereka-reka
Sihir yang kau manterakan berupa apa?
Satir, memaksa tangis menguap diembus tawa
Menarik kesah melebur dijerat canda

Jatuh dan tersungkur
Kadang rapuhku menggeliat
Aku tak mau bangkit
Malas sekali
Tapi kau menyeruak dari hobimu
Membantuku meranggas getir dan pilu

Tiga kali bel sekolah berdering
Kita masih di sini
Tugas dan ujian sampai pada titik terbosan
Bolos sekolah jadi pilihan
Tapi kau tertawa
“Mari makan siang!”

Hari ini, sejak ku jejalkan kaki
Sorot matamu melagu
Entah mengapa, tanganku memaksa memelukmu di keheningan
Aku inginkan perpisahan tanpa ucapan
Agar tak tumbuh penyesalan seusai kepergian
Usah berjanji ‘kan kembali ke tempat ini
Buktikan saja, biar ku tunggu walau sampai tua

Siang enggan menunggu
Terasa hari akan menjadi malam
Memaksa kau, aku, dan mereka bertumbuh tanpa suara
Ku kirim gambar kita dulu
Selepas ujian memamerkan samir baru untuk dipakai lusa
Dan lagi, kau tertawa
“Rindu,” katamu
Tapi mimpi masih membara
Tak padam, bahkan belum membakar apapun jua

Esok, kita kembali ke sini
Asa yang ku buru sendiri
Perih yang ku batin setengah mati
Luruh seraya ku cerkau bayangmu
Indera mataku melagu menatapmu
Manja bukan kepalang
Lagi-lagi kau malah tertawa
Dengan sorot mata yang tak berganti
Meyakinkanku bahwa janji bertemu nyata terjadi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s