Pembosan

Aku mudah bosan.

Aku bosan berada di kelas sepanjang waktu untuk menyimak guru menerangkan pelajaran. Makanya aku sangat senang duduk di depan kelas. Menghirup lebih banyak oksigen karena banyak sekali tanaman di taman kelas. Rasanya, otakku yang panas diguyur air dingin, sejuk sekali. Juga melihat teman-teman lain berlalu-lalang tanpa suara. Tak masalah, aku hanya butuh menyegarkan kembali pandanganku.

Aku mudah bosan.

Aku bosan di rumah seharian. Jadi aku ke luar. Entah berkeliling kota menggunakan motorku atau menuju sekolah hanya untuk melihat kelasku yang membosankan. Aku lebih suka ke toko buku. Begitu damai perasaanku kala semerbak aroma buku-buku yang baru dicetak itu memberi salam pada indera penciumanku.

Tapi ada beberapa hal menarik yang tak pernah membuatku bosan.

Aku tak pernah bosan membaca novelku. Secuil sesak menggangguku setiap kali menutup bahan bacaan itu. Karena nyatanya mataku telah lelah, atau karena aku harus belajar fisika dan kimia.

Aku tak pernah bosan mendengarkan orang berbicara Bahasa Inggris sambil memandangi gambar setiap sudut Kota London yang selalu mampu memaksaku ingin ke sana.

Aku tak pernah bosan menanti kedatangan hujan. Hujan membawa ingatan tentang lupa di masa lalu yang sekarang berwujud kenangan. Kadang apa yang ia lakukan padaku itu menyebalkan. Tetapi, kehadirannya menguapkan kekesalanku. Berganti menjadi syukur karena ia dengan kerelaan hati mengguyur tanaman yang menghasilkan banyak oksigen di kala aku bosan di kelas.

To be continued.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s