Teman

Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Tere Liye, Rindu


Ketika ku sebut mereka teman, satu per satu mereka hilang. Layaknya sunyi dalam hiruk pikuk perkotaan, dengan berbagai alasan, aku merasa sendirian. Tanpa keberanian menyebut seorangpun sebagai teman. Asing. Asing bukan kepalang.

Ajaibnya, dalam tiga tahun semua berubah. Jauh melampaui ekspektasi seorang introvert yang cukup nekat untuk berharap. Banyak orang baru yang kutemui di sini ku sebut teman. Lebih dari itu, beberapa dari mereka ku beri penghargaan paling tinggi, persahabatan.

Tiga tahun begitu singkat untuk bahagia di sekeliling kalian. Perpisahan? Tentu saja, sedikit banyak mengusikku.

Entah hal baik dariku atau kekanak-kanakanku yang kalian kenang, aku ragu. Meski begitu, dalam bait puisi sore ini, bacalah dari hatimu, teman. Pahamilah, tanpa meraba indra matamu.

Jika suatu saat nanti kau menghilang, aku tak akan mencari. Pun bertanya mengapa kau pergi. Aku menerima, sama seperti kebiasaanku jauh sebelum kita bertemu. Satu hal yang mungkin kau belum tahu dari ceritaku dulu. Ketika mereka kembali, aku telah berlari. Bermil-mil jaraknya dari jejak langkah pertama mereka pergi.

Maka setelah kita berpisah dari kota ini, setitikpun jangan pernah berpikir untuk menghilang. Karena aku pernah merasa sendirian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s