Sukses Versi Tuhan

Bagaimana bila opsi pertama adalah kesalahan?

Bagaimana bila opsi terakhir adalah peluang?

***

Kita tak pernah tahu, pun cukup kesulitan untuk memahami, kegagalan mana yang akan mengantar pada kesuksesan. Toh, titel sukses atau tidak didapat di akhir misi, bukan?

Sebagai makhluk yang penuh cita, manusiawi ketika kita mengharapkan sukses definisi kita. Namun, pernahkah kita menyadari, Tuhan punya definisi sukses yang lebih hakiki untuk hamba-Nya? Untuk kita!

Akan ku beritahu sedikit kisah tentang seseorang. Sebelum kau mulai membaca, apresiasilah keberaniannya, karena menceritakan kepahitan butuh jiwa yang besar. Bukan, bukan rasa kasihan. Ia hanya ingin kita paham, bahwa sesederhana apapun luka tetap menggores, bahwa seburuk apapun pengalaman tetap bermakna.

Kala duduk di sekolah dasar, salah satu lembaga ternama berencana memberikan beasiswa kepada murid-murid dengan prestasi akademik terbaik di setiap sekolah. Yang orang-orang kenali, ia adalah siswa terbaik, tak pernah absen dari ranking satu, bahkan juara umum satu sekolahan. Nyatanya, ia tak mendapatkan beasiswa itu, melainkan temannya yang lain. Duhai!

Kekecewaan pada pengalaman masa kecil terus mengikutinya hingga ia beranjak dewasa. Bukan karena tak mendapatkan dana beasiswa yang sebesar Rp2 juta itu. Hei, apalah arti uang bagi anak sekolah dasar? Ia hanya kecewa pada realita. Bagaimana bisa realita membungkamnya dengan begitu sederhana? Bagaimana bisa kemustahilan dan pengabaian menjadi pelajaran paling penting di masa kanak-kanaknya?

Jadi, inilah dia. Tumbuh menjadi seorang yang berjiwa besar, pun telah terbiasa pada ketidakadilan. Ia selalu berusaha menomorsatukan kepentingan umum dibanding keinginannya. Ia selalu berusaha mengalah pada luka. Bahkan saat ia pantas menang, ia berusaha untuk tak membusungkan dada, bertepuk tangan untuk dirinya.

Mengapa? Karena ia tahu rasanya kalah.
Lebih dari itu, ia tahu rasanya kalah saat ia adalah pemenang yang sebenarnya.

Lihatlah ia. Penuh dengan cita dan cinta. Ia tak takut pada gagal, karena ia tahu, Tuhan akan selalu membantu manusia yang bersabar dan terus berjuang. Kau tahu, sekalipun tak pernah ku dengar ia kapok bermimpi meski di masa lalu realita berhasil menipunya habis-habisan. Beginilah jiwa pemenang yang sebenarnya, bukan? Pantang menyerah dan selalu percaya. Percaya bahwa gagal akan berlalu, berganti menjadi sukses yang lebih besar.

Hari ini, aku menulis kisahnya dalam diam. Perih, jujur saja. Ingin rasanya berteriak untuk membebaskan sesak di dada. Bahkan jika aku menangis sekarang, lukanya justru semakin koyak saja. Ya, ini hanyalah satu kisah dari sekian banyak alasan kepalsuan tawanya. Sakit sekali melihatnya patah hati sejak begitu muda! Tapi, aku patut untuk lega. Setidaknya, ia mampu tumbuh menjadi seorang yang bijaksana karena ini semua. So proud of you!

Teman, dengarlah ini.

Kau telah menjadi pemenang saat kau berusaha membuat orang lain menang. Dan maaf, sekali saja kau menyalahi hak orang lain, kau pecundang. Sungguh, bagiku kau pecundang paling buruk.


Setelah sekian lama vakum… Hola!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s