Melawan Sugesti Negatif: Generasi Micin

Even your compliment sounds like an insult.
Of course, words are the source of misunderstandings.

***

Pernah mendengar istilah peradaban micin? Mungkin kalian akrab dengan postingan yang berbunyi seperti ini:

Peduli dibilang caper.
Sensitif dibilang baper.
Perhatian dibilang modus.
Susah emang punya empati di peradaban yang kebanyakan makan micin.

Unknown

Kali pertama membaca postingan di atas, saya cuma tertawa kecil, menganggap sebuah gambar yang berisikan tulisan tersebut sekadar untuk hiburan saja. Namun, belakangan saya mulai resah mendengar istilah ini. Benarkah kalian, juga saya, adalah generasi micin? Generasi sembarangan, pesimistis, bermental lemah, dan berpikiran negatif? Karena apapun maknanya, sepertinya kita semua setuju bahwa ‘generasi micin’ memiliki konotasi yang negatif jika menilik dari postingan yang kerap muncul di media sosial itu.

Dewasa ini, disadari atau tidak, sindiran yang dikandung postingan itu sedikit banyak ada benarnya. Kau tahu, saya menyadarinya tepat kemarin, 13 Desember 2016.

Ada beberapa orang yang jarang untuk melontarkan pujian. Yang harus diyakini, sekalinya mereka memuji, itu adalah sebuah kejujuran, bukan omong kosong guna menyenangkan hati lawan bicara semata.

Yang meresahkan bukanlah karena pujian yang diberikan ditolak lawan bicara, melainkan disangsikan oleh pihak ketiga. Mungkin kalian pernah mengalami, kala memuji seorang teman, tetapi teman yang lain menganggap pujian kalian adalah sebuah kalimat meremehkan. Saya? Sering! Dan kemarin, terakhir kali saya menerima pikiran negatif dari pihak ketiga (baca: teman yang lain) itu. Well, rasanya inilah salah satu oknum yang membuat kita semua dipukul rata: generasi micin.

Meski begitu, ada baiknya jika kita juga merenungkan dari sudut pandang yang lain. Mungkin bukan kesalahan mereka yang berkomentar miring. Hanya saja, cara penyampaian kita dalam memuji yang salah. Entah gestur yang kurang bersahabat atau diksi yang digunakan kurang tepat. Benarlah kiranya petikan kalimat dari novel terbaik yang pernah saya baca ini:

Words are the source of misunderstandings.

Antoine de Saint-Exupery, The Little Prince

Setulus apapun niat seseorang, kadang orang lain masih menganggapnya salah. Sayapun akhirnya mempelajari bahwa untuk berbuat baik, niat saja tidaklah cukup. Kita juga harus memahami konsep tentang: berbuat baik dengan niat yang baik… dan cara yang baik.

Jika kita telah meniatkan dan melakukan dengan cara yang baik, namun orang lain masih menganggap kita seorang penjahat, maka tersenyumlah. Mungkin Tuhan sedang menginginkan kita mengingat kembali makna kesabaran dan keikhlasan 🙂

Selamat Hari Rabu!
Jangan lupa, Today is Timnas Day. Final Indonesia vs Thailand, kick off 19.00 WIB.


Silakan hit like and enter your comment for this writing! Thanks #hug

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s