Matematika

Di hari terakhir Bengkel Sastra Bimbingan Penulisan Cerita Pendek bagi Siswa SMA, SMK, MA, dan Sederajat Se-Kota Bengkulu Mei lalu, pihak Kantor Bahasa Bengkulu selaku penyelenggara mengadakan seleksi untuk memilih 20 cerpen terbaik yang akan diterbitkan menjadi buku kumpulan cerpen.

Well… Inilah salah satu cerpen yang dimuat. Selamat membaca, para pecinta sastra!

This slideshow requires JavaScript.

Matematika
Karya Rizki Amanda

“Dan peraih nilai tertinggi ulangan kali ini adalah… Zabik!”

Tepuk tangan membahana di seluruh penjuru kelas, tak lupa seulas senyum penuh rasa bangga tersimpul di bibir Pak Bas, seorang guru matematika yang ditaksir umurnya sekitar lima puluh tahun. Betapa tidak, tercatat sudah tiga kali berturut-turut teman sekelas Anes yang dikenal kurang bergaul itu meraih nilai sempurna saat ulangan harian matematika. Tidak cukup sampai di situ, fisika, biologi, Bahasa Inggris, hingga sejarahpun dia jagonya. Tak heran, seluruh guru kagum akan kecerdasannya. Ini masih Bulan September saat mereka duduk di kelas X.1 SMA Perintis Harapan dan Zabik sudah terkenal seantero sekolah! Anespun berasumsi, mungkinkah Zabik reinkarnasi Albert Einstein? Entahlah…             

“Nah, anak-anak, kalian harus mencontoh Zabik. Masa sama-sama makan nasi, Zabik selalu mendapat nilai sempurna, kalian rata-rata cuma mendapat nilai tujuh setengah? Seharusnya, kalian belajar lebih giat lagi. Sebentar lagi, kan, mau ulangan semester. Paham?” Nasihat Pak Bas pada semua muridnya.

“Paham, Pak…!”

Hanya inilah yang Anes dan teman-temannya mampu katakan. Iapun mulai tenggelam dalam jawaban-jawaban aneh yang menari riang di kepalanya:

“Enggak paham…”                                                                           

“Hampa, Pak!”                                                                                             

“Yaelah Pak, tinggal bikin nilai kita seratus semua, kok, rempong amat?”              

“Memangnya Bapak pikir soal yang Bapak buat enteng pake begete?!”     

Oke. yang terakhir ini terlalu sadis, Anes menertawakan kenakalannya sendiri.

***

Teeett! Teeett!

Pak Bas pergi meninggalkan ruang kelas bertepatan dengan dering bel istirahat kedua. Sontak saja teman-teman Anes ke luar kelas untuk ke kantin membeli camilan, ke perpustakaan, atau sekadar berkeliling sekolah melepas penat setelah lama berkutat dengan rumus-rumus. Sekarang, tinggal Anes sendiri di kelas dengan segenap kebingungannya.      

Setiap hari ia selalu bolak-balik les sana-sini, matematika, fisika, kimia, Bahasa Inggris, semua ia geluti. Namun, nilai ulangannya hanya berakhir di angka: delapan. Sementara Zabik, selalu menjadi peraih nilai tertinggi dengan angka sepuluh di tangannya. Anes tak tahu di mana kelemahannya. Baginya, ia tak pernah mendapat masalah apapun ketika les. Namun, entah mengapa soal ulangan selalu terasa menyesakkan untuk diselesaikan.

Aha! Sebuah ide yang menurutnya cukup brilian terbersit dalam benak Anes. Sederhana memang, ia hanya perlu menemui Zabik dan bertanya bagaimana caranya agar sempurna menjawab soal-soal ulangan harian seperti dirinya. Aku yakin, ini pasti berhasil! Anes beranjak dari mejanya. Ia mendapati Zabik tengah memasuki ruang kelas dengan menggenggam segelas es teh yang isinya tinggal setengah. Zabik meminumnya bersama sepiring sate padang dan sebungkus keripik pedas saat berkumpul bersama kedua sahabatnya beberapa saat lalu, Faris dan Ilham, di kantin sekolah.

“Hahaha… kamu serius ingin tahu?” Inilah kalimat pertama yang Zabik layangkan pada Anes setelah Anes mengutarakan niat polosnya itu.

“Iya!” Serunya mantap. “Kamu les apa saja? Di mana? Aku mau satu tempat les denganmu. Boleh, kan?”

“Aku tak pernah les apapun.”

Mata Zabik tertuju pada papan tulis kosong di hadapan mereka. Tak ada lagi tawa renyahnya seperti tadi. Ia asik menyeruput es teh di tangannya yang masih bersisa sambil mengeluarkan buku catatan sejarah dari dalam tas hitamnya.

“Hah? Tapi…”                                                                                                           

“Iya, aku tak pernah les apapun,” Ulang Zabik memotong kalimat Anes.                

“Oh, kalau begitu kita bisa belajar kelompok. Mau kan?” Ujar Anes cepat.             

Zabik tersentak. Ia menutup kembali buku catatan yang baru saja dibukanya. Sedetik kemudian ia menatap Anes datar tanpa ekspresi. Tak menjawab.

Teeett! Teeett!

Terdengar kembali suara bel berdering yang menandakan mereka harus segera duduk di bangku masing-masing, pelajaran pada jam terakhir hari ini akan segera dimulai. Terimakasih telah berdering di saat yang tepat! Gumam Zabik kepada bel sekolahnya.

***

“Zabik!” Seru Anes seraya setengah berlari mengejar Zabik.

Ia mempererat tali tasnya yang hampir terjatuh karena berlari. Ini jam pulang sekolah dan Anes tak sabar untuk mengajak temannya itu belajar bersama. Aku harus mendapat nilai seratus! Harus! Batinnya penuh ambisi.

“Apa?” Sahut Zabik santai, seolah-olah ia lupa akan pembicaraan mereka sebelumnya.

“Gimana? Hari ini jadi belajar bersama, kan?” Tanya Anes penuh semangat.

Zabik melirik kedua teman di sampingnya, Faris dan Ilham. Yang dilirik hanya tersenyum penuh makna. Entah apa yang mereka berdua pikirkan.                                           

“Kamu tidak les?”                                                                  

“Aku mau berhenti les saja.”                                                                          

“Kenapa? Aku tidak bisa belajar sama kamu. Sibuk.”                                               

“Apa?”                                                                                                                                   

“Sudah kukatakan aku sibuk!” ulang Zabik sedikit kesal.

“Sudahlah, aku mau pulang. Rumahmu bukan arah sini, kan?” Ucap Zabik retorik.

Ia berlalu bersama kedua temannya tanpa menunggu jawaban dari Anes, meninggalkan Anes berdiri tergugu. Pinggir jalan depan sekolah itu terasa lengang sejenak.

“KALAU MEMANG PELIT MENGAKU SAJA!” Teriak Anes akhirnya dengan segenap kekuatannya, berharap anak-anak lain melirik ke arah mereka.

Benar saja, teman-teman mereka yang sedang berlalu-lalang menuju rumah masing-masing mendadak mengalihkan pandangan mereka ke arah Anes. Sejurus kemudian, mereka menatap mengikuti arah tatapannya. Zabik.

Anes menyadari wajah Zabik memerah karena ditatap oleh banyak pasang mata. Ia salah tingkah. Terlebih, karena teriakan dengan kata ‘pelit’ di tengahnya yang Anes rasa pasti membuat malu. Tentu saja teman-temannya penasaran dengan kata ‘pelit’ yang ia lontarkan untuk lawan bicaranya itu.        

“Tidak mau berbagi ilmu ya bilang! Kamu memang cerdas, tapi kamu pelit ilmu, Bik! Takut disaingi, hah?!” Tantang Anes.

Seper sekian detik kemudian, desas-desus anak-anak lain berbisik terdengar memekakkan.

“Iya… Orang pintar memang kebanyakan pelit ilmu!”

“Di luar dugaan Zabik orangnya seperti itu, ku kira dia berbeda.”

“Tuh, kan, benar tebakanku selama ini!”

Oke. Sepertinya aku mulai keterlaluan, batin Anes. Zabik—dan kedua temannya—terpana menatap keberanian Anes berteriak seperti itu. Sepertinya mereka kagum sekaligus kecewa padanya. Melihat tak ada tanda-tanda perlawanan dari Zabik, anak-anak lainpun mulai beranjak dari tempat mereka berdiri dan pergi berlalu. Faris juga telah mengajak Zabik pulang. Begitu pula Anes.

Aku benci Zabik! Aku harus bisa mengalahkan Zabik! Anes berlari menuju rumahnya dengan hati pedar. Perasaannya meruap. Buruk sekali. Membuatnya lupa bahwa lima belas menit lagi ia harus sudah berada di rumah Mbak Asti, mahasiswi di universitas tempat Ibunya mengajar yang merangkap menjadi tentor kimianya. Atau, lebih tepatnya ia terlalu lelah untuk pergi les hari ini.

***

Hari demi hari berlalu. Anes masihlah seorang dengan segudang ambisi untuk mendapat nilai sempurna dan Zabik masih seorang yang tidak banyak bergaul dengan teman-teman di sekitarnya. Bedanya, sekarang Zabik semakin jarang berbicara. Betapa tidak, kabar tentang Zabik yang cerdas namun pelit ilmu tersiar dengan cepat. Alhasil, beberapa anak mulai menjauhi Zabik. Tidak banyak yang memiliki cukup minat untuk bermain dengan orang yang pelit ilmu, terlebih pendiam minta ampun. Tapi bagi Zabik, ia tidak butuh alasan untuk berontak. Toh memang sedari dulu dia hanya berteman dekat dengan Faris dan Ilham, dua sahabatnya sedari memakai seragam putih biru. Tidak memiliki teman yang banyak bukanlah barang baru baginya.

***

“Apa kalian tidak lelah setiap hari membicarakan teman kalian sendiri?!” Hardik Anes tiba-tiba pada beberapa anak lain yang tengah membicarakan Zabik. Tanpa aba-aba, seisi kelas senyap seketika.

“Kalau mau mengeluarkan unek-unek, katakanlah sekarang! Sana, di depan orangnya!” Lanjutnya sembari menunjuk ke sembarang arah dengan menggunakan tangan kirinya.

Hening. Kelima lawan bicaranya diam tak berkutik. Sedangkan teman-teman yang lain menanti dengan sabar apa yang akan ia katakan selanjutnya.

“Kalian tidak mampu, kan?” Ia menghela napas.

“Karena nyatanya harimau tetaplah harimau. Meski ia diam, walau aumannya tidak terdengar, semua orang tetap akan berlari kala melihatnya.”

Semua mata menatapnya ragu, terlebih Zabik. Ada yang yang menganggukkan kepala, namun lebih banyak yang memasang wajah bingung. Antara tidak mengerti perkataan Anes atau tidak menyangka Anes akan berdiri membela Zabik, yang mereka ketahui sebagai musuhnya.

“Jangan salah paham,” Suaranya melunak.

“Aku hanya jenuh melihat pembicaraan di belakang punggung.”

Mendadak Pak Bas memasuki kelas. Wajah teduhnya yang telah dihiasi beberapa gurat kerutan tidak membuatnya tampak tua. Nyatanya, ia tetap terlihat muda karena senyum khas yang hampir selalu hadir di wajahnya. Bersamaan dengan itu, semua anak beringsut ke bangkunya masing-masing dan mengeluarkan buku matematika juga alat tulis.

“Tumben kalian tidak seperti pasar saat Bapak belum di kelas.”

Hari itu ada rapat guru untuk membahas persiapan ulangan semester. Tak ayal membuat Pak Bas telat tiga puluh menit dari jadwal kegiatan belajar mengajar yang sebenarnya.

Semua murid tetap diam. Mungkin, jika permasalahan tadi tidak terjadi, mereka akan tertawa karena menganggap perkataan Pak Bas sebagai lelucon. Setelah mengeluarkan bukunya, Pak Bas melanjutkan.

“Anak-anak, hari ini sepertinya ada yang berbeda dari bulan-bulan lalu.”

Semua murid mendengar takzim. Seperti janjinya, hari ini adalah pengumuman hasil ulangan matematika bab empat yang telah dilaksanakan dua hari lalu.      

“Untuk pertama kalinya, ada perubahan peraih nilai tertinggi,” Lanjutnya sembari memperbaiki letak kacamatanya.                                                                                     

Terang saja, ini membuat seisi kelas riuh. Bisikan-bisikan yang menyatakan keraguan akan ‘lengsernya’ Zabik dari jabatan yang telah diperkirakan selama ini, ‘peraih nilai tertinggi matematika empat kali berturut-turut’, serta pertanyaan siapakah peraih nilai tertinggi sekaligus untuk pertama kalinya mengalahkan Zabik sepanjang sejarah kelas X.1 ini? Anes melirik ke arah Zabik. Zabik cukup tenang, mengambil pulpen lalu mulai menekuni buku tulisnya. Hanya benang kusut yang ia hasilkan dari gesekan tinta hitam dan buku tulis biru tua itu. Entah apa tujuannya.                                           

“Peraih nilai tertinggi kali ini adalah… Anes!” Ujar Pak Bas dengan sumringah. Kentara dari cara beliau berbicara. Ah, beliau memang guruku yang paling ekspresionis, gumam Anes.

Lebih dari itu semua, Anes terkejut. Tak percaya bahwa usahanya kali ini membuahkan hasil sesuai harapannya—mendapat nilai sepuluh. Pak Bas memberinya selamat. Teman-temanpun bersorak untuknya, kecuali satu orang yang sombong itu. Ya, Anes baru saja menemukan julukan baru untuk Zabik setelah menyadari Zabik tak mau ikut bertepuk tangan atas keberhasilannya. Tak mengapa, berhasil mengalahkan orang sombong itu saja sudah membuat Hari Senin ini menjadi seelok pelangi, Anes menghibur dirinya sendiri.

Sejak kejadian di pinggir jalan depan sekolah dulu, Anes bertekad untuk menjadi lebih baik. Ia mulai mencari dan mengerjakan beragam jenis soal baru yang sesuai materi di sekolah dengan memanfaatkan internet. Semua soal yang membingungkannya ia tanyakan pada guru lesnya. Di sekolah, Anes juga tak segan untuk bertanya jika ada bahasan yang tak ia pahami. Sepertinya, sekarang dia mengerti masalahnya. Ia hanya malas berlatih beragam jenis soal baru karena merasa puas dengan pengetahuan yang telah ia miliki.

Anes menyadari Zabik telah lama memperhatikan perubahannya. Tetapi, Zabik tak menyapanya lagi. Tidak, tidak. Dari dulu dulu dia memang tak pernah menyapaku, batinnya sangsi. Zabik memang terkenal sebagai kutu buku yang tak banyak bergaul. Terlebih, setelah Anes membuatnya malu beberapa bulan yang lalu. Ini sebanding dengan sikap pelitnya yang menyebalkan itu! Umpat Anes di dalam hati.

***

“Anes!” Sebuah suara memanggilnya, mengingatkannya dengan kejadian yang terkadang masih membuatnya pedar bukan kepalang—meski berkali-kali ia telah mencoba berdamai dengan dirinya sendiri.

Ah, mana mungkin dia, pikir Anes. Ia terus menyusuri rumah demi rumah. Semakin lama, lambungnya semakin protes untuk segera bekerja melumat makanan. Hanya dengan tiga soal matematika dari Pak Bas telah mampu membuatnya kehilangan tenaga sebegini banyaknya.                                                                                   

“Anes Ardiani!” Ulang suara itu.

Suara itu semakin jelas terdengar, menandakan ia sudah berada semakin dekat ke arah Anes. Oh, baik-baik! Aku akan berbalik. Belum sempat ia berbalik, seseorang yang memanggilnya itu telah lebih dulu berada di depannya. Si pelit dan sombong—Zabik Agam Karami.

“Di panggil, kok, tidak menjawab, sih?!” Ucapnya sewot.

Sepertinya, ia sedikit kesal karena Anes tidak menyahuti panggilannya dengan segera. Anes hanya terdiam, tak menyangka bahwa benar Zabik yang menyapanya. Ia mengira Zabik dendam karena telah ia permalukan hari itu. Ini yang pertama kalinya setelah Insiden Bulan September—begitu ia mengabadikannya.            

“Nih, coklat!” Kata Zabik sembari membuka telapak tangan kanan Anes dan meletakkan coklat pemberiannya di sana.                                                                                

“Heh?” Hanya itu yang keluar dari mulut Anes.

Anes menolak coklat itu dari tangannya. Kemudian melangkahkan kakinya ke sisi kiri Zabik, tak ingin berbicara dengan Zabik saat ini—entah sampai kapan. Tapi Zabik terlalu cekatan untuk menduga reaksi darinya.

“Ini sebagai ucapan selamat karena kamu berhasil mengalahkanku,” Ujar Zabik dengan seulas senyum tulus di wajahnya.

Kembali Zabik melabuhkan pemberiannya ke dalam genggaman Anes. Kali ini Anes menerimanya.

“Maaf, bukannya aku pelit. Juga bukannya tidak mau berbagi ilmu padamu. Aku hanya tak ingin nantinya kamu malah bergantung dengan kemampuanku. Semua orang bisa menjadi lebih baik, kok, dan kamu sudah membuktikannya hari ini. Yang paling penting, dengan usaha dan kemampuanmu sendiri,” Jelasnya menyadarkan Anes.

Anes kembali dibuat heran, tak menyangka bahwa Zabik yang telah ia cap sebagai ‘orang pelit dan sombong’ bisa berkata sebijaksana ini. Dalam hati ia malu telah berprasangka buruk pada Zabik selama ini.                   

“Maaf, Bik. Aku tak tahu kalau kamu tidak menerima tawaranku saat itu karena mempunyai tujuan lain.. Maksudku, tujuan yang baik. Maaf juga karena aku sudah membuatmu  malu di depan banyak orang,” Sesalnya.

Anes tertunduk dengan masih memegang coklat pemberian Zabik, tak sanggup untuk menatap sepasang bola mata milik seorang yang ia anggap musuh, namun nyatanya adalah teman yang begitu peduli padanya.

“Sudah, lupakanlah. Kertas yang telah diremukkan memang tak bisa kembali sempurna. Namun, setidaknya masih bisa dipakai menulis sesuatu, bukan?”

Anes mencerna kata demi kata dari Zabik. Tetap tidak mengerti. Zabik mengabaikan wajah Anes yang kebingungan. Iapun melanjutkan.

“Hidup itu harus seimbang Nes. Memang sedikit klise. Tapi, inilah adanya. Jangan pernah berpikir bahwa belajar hanya untuk meraih nilai tinggi di sekolah. Kamu akan terjebak dengan ambisi semata. Tapi, belajarlah karena memang hidupmu membutuhkan ilmu. Apapun itu, seperti matematika. Terkadang Pak Bas menghabiskan sebuah papan tulis hanya untuk mencari nilai x yang hasil akhirnya sekadar bilangan nol. Kita boleh saja menyerah sebelum menyelesaikan soal. Namun, jika kita sedikit lebih bijaksana untuk bersabar, untuk lebih teliti, untuk terus belajar, bukankah itu lebih baik? Mengingat kamu mendapatkan nilai sepuluh ulangan kali ini, menandakan kamu sudah jauh lebih bijaksana. Seperti pemenang yang sebenarnya!”

Anes hanya manggut-manggut. Ia tidak terlalu mendengarkan perkataan Zabik. Melainkan, ia dibuat heran untuk kesekian kalinya.  Jarang-jarang melihat Zabik berbicara sepanjang ini. Sebisa mungkin ia berusaha mengingat kejadian langka yang sedang terjadi di hadapannya. Mungkin jadi, ini satu-satunya seumur hidup.

“Terimakasih juga telah membelaku di kelas tadi,” Zabik tertawa sendiri.

Kemudian, ia kembali melanjutkan langkah kakinya dengan berjalan ke arah kompleks perumahan Anes. Anes ingin sekali memprotes kalimat Zabik. Namun, ada yang lebih mengusik pikirannya.

“Eh, kamu mau mengantarku pulang, ya? Tidak usah, Bik.” Katanya sungkan.

“Hahaha…!” Tawa Zabik semakin menjadi-jadi. “Semua orang mengira aku kutu buku yang kurang bergaul. Nyatanya, kamu yang mempunyai teman lebih banyak dariku malah lebih parah. Masa kamu tidak tahu kalau kita satu kompleks, sih, Nes?!”


ps: terdapat beberapa typo di dalam buku, maafkan Tim… :’v

Advertisements

3 thoughts on “Matematika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s