Hidup Di Negeri Pelaut

Suatu senja seperti biasa
Ombak laut merayu, menggulung bisu
Semua tahu nenek tua masih di sana
Berdiri getir merengkuh asa dilamar ragu

Gegap gempita revolusi mental
Menderam bersama kemelut yang tersulut
Meski beratus kali reinkarnasi para pelaut
Tak jua bergaung akuan “Sekian banyak terluput.”

Katanya,
“Negeriku ini surganya perompak nurani
Harta karun para tirani
Salahnya aku terlahir bukan sebagai pelaut sejati
Tak mampu menanak butiran pasir menjadi sesuap nasi”

Duhai!
Nenek tua tidak memahami
Ini kewajiban pemangku birokrasi
Perih memang mengakui
Menutup mata berarti menunggang jet pribadi
Pelesiran ke luar negeri

Hidup di negeri pelaut
Menyapa maut dengan perahu nurani
Agunan hidup yang lebih manusiawi
Tak jua terbeli meski sekadar nasi basi

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s