Realita Sosial di Balik Film Menggugah Perasaan

Negara India begitu piawai dalam merefleksikan apa yang terjadi di masyarakat melalui sinematiknya. Dengan bercirikan musik, tarian, dan tradisi yang kental, Bollywood sukses membawa India menjadi salah satu negara dengan industri film terbesar di dunia. Tidak ketinggalan peran sutradara Kabir Khan dalam filmnya “Bajrangi Bhaijaan”. “Bajrangi Bhaijaan” mengangkat sebuah tema klasik sebagai fragmentasi dari realita sosial yang marak hampir di seluruh belahan dunia, perdamaian. Film tersebut mengemas pesan cinta dan perdamaian dalam potret identitas-identitas yang saling berlawanan (oposisi biner), yaitu Hindu dan Islam, Pakistan dan India, serta dewasa dan anak-anak. Dengan berbalutkan secarik komedi satire, film tersebut apik menayangkan sindiran dengan bertopeng humor sederhana untuk menghibur para penikmat film.

“Bajrangi Bhaijaan” mengangkat sebuah tema klasik sebagai fragmentasi dari realita sosial yang marak hampir di seluruh belahan dunia, perdamaian.

Kisah dalam film tersebut bercerita mengenai Shahida, seorang anak perempuan Muslim berkewarganegaraan Pakistan yang terlahir bisu. Di tengah kekurangan fisiknya, ia dihadapkan dengan sebuah permasalahan yakni tersesat seorang diri di Negara India. Tokoh utama lainnya adalah Pavan, seorang pemuda berkewarganegaraan India yang taat beragama, pemuja Dewa Hindu Hanoman. Perjuangan berat dan melelahkan untuk memulangkan seorang perempuan cilik yang bisu dan tidak membawa identitas apapun, ditambah dengan kentalnya intoleransi beragama di India, serta masih hangatnya konflik antar dua negara, India dan Pakistan, membuat Pavan harus membayar mahal niat baiknya tersebut di kemudian hari.

Dalam potret oposisi biner, Shahida dan Pavan bertemu secara tidak sengaja di Kurukshetra. Sejak saat itu, Shahida mengikuti ke manapun Pavan pergi, termasuk saat Pavan tinggal di rumah keluarga calon istrinya, Rasika. Pertemuan tersebut bukan hanya pertemuan antara seorang anak yang tersesat dengan seorang pemuda berhati mulia, melainkan pertemuan dua kutub latar belakang sosial yang berbeda. Hal itu tergambar pada kondisi Shahida dan Pavan. Hubungan Shahida dan Pavan tidak berjalan mulus. Calon mertua Pavan menganggap bahwa memberikan tempat tinggal sementara bagi Shahida yang seorang Muslim dan berkewarganegaraan Pakistan merupakan suatu aib bagi keluarga. Sementara itu, kebaikan dan ketulusan Pavan membuat Shahida merasa nyaman dan terlindungi.

Dalam film “Bajrangi Bhaijaan”, sikap moral yang disarankan kepada penonton adalah ikhlas dan jujur. Demi untuk memulangkan Shahida, Pavan mengalami berbagai rasa sakit baik fisik maupun psikis. Ia harus mengantarnya sendiri karena kedutaan hingga biro perjalanan tak dapat membantu dengan alasan buruknya hubungan diplomatik antara India dan Pakistan. Pavan akhirnya membayar seseorang yang dipercaya mampu memulangkan Shahida ke negaranya, yang ternyata malah berniat menjual perempuan cilik itu ke rumah bordil. Iapun memutuskan untuk memulangkan Shahida dengan tangannya sendiri yang membuatnya mengalami kekerasan demi kekerasan oleh pihak kepolisian Pakistan karena dituduh sebagai mata-mata India. Lebih dari itu, kejujuran Pavan saat menjelaskan mengapa dan bagaimana ia bisa tiba di Pakistan tanpa paspor dan visa, membuatnya dianggap gila oleh sebagian orang. Keikhlasan dan kejujuran inilah yang menjadi senjata terbaik untuk mengetuk jiwa-jiwa rakyat di kedua negara bahwa apa yang dia lakukan hanyalah suatu tindakan berasaskan rasa kemanusiaan semata. Sikap ini pula yang membuat rakyat Pakistan serta  India mendukungnya dan membuatnya dibebaskan dari penjara Pakistan.

Keikhlasan dan kejujuran inilah yang menjadi senjata terbaik untuk mengetuk jiwa-jiwa rakyat di kedua negara bahwa apa yang dia lakukan hanyalah suatu tindakan berasaskan rasa kemanusiaan semata.

Layaknya film produksi Bollywood lainnya, film tersebut berhasil menguras air mata penonton meski aslinya bergenre drama komedi. Keseluruhan film tersebut cukup etis, karena menampilkan tayangan yang sesuai adat dan budaya setempat. Pria Pakistan mengenakan peci dan wanita Pakistan mengenakan khimar (penutup kepala), serta wanita India menggunakan kain sari. Dalam film ini juga diperlihatkan masyarakat India dan Pakistan menggunakan tindik di bagian wajahnya.

Intoleransi beragama di Negara India digambarkan dalam scene yang ringan namun informasinya padat tersampaikan, yakni dengan menyentil para penikmat film namun dengan cara humoristis. Suguhan seperti ini membuat penonton dapat menyadari realita sosial di sekitarnya tanpa merasa digurui sama sekali. Konflik antar negara yang awalnya sebangsa ini digambarkan tidak berlebihan. Melalui dialog dan akting para pemain, film “Bajrangi Bhaijaan” menggambarkan konflik antar dua negara yang bertetangga tersebut mengalir apa adanya. Begitu hidup. Pesan cinta dan perdamaian juga disampaikan tidak dengan alur memaksa. Scene demi scene sukses menggambarkan perjuangan berat Pavan, yang di kemudian hari menyadarkan seluruh rakyat Pakistan dan India bahwa rasa kemanusiaan dan perdamaian antar manusia tetaplah nomor satu dibanding ego masing-masing pemimpin negara.

…. rasa kemanusiaan dan perdamaian antar manusia tetaplah nomor satu dibanding ego masing-masing pemimpin negara.

“Bajrangi Bhaijaan”, sebuah film yang memungkin kita berbicara mengenai potret identitas-identitas yang saling berlawanan (oposisi biner) lewat model film yang menggugah perasaan ala Bollywood. Film ini menawarkan perubahan mindset para penikmat film ke arah yang lebih baik dalam merespon perbedaan yang tersebar di masyarakat.


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak, ya!
Hit like and enter your comment for this writing, thanks #hug

Advertisements

2 thoughts on “Realita Sosial di Balik Film Menggugah Perasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s